Menu

Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah

August 22, 2014 | Cara Pengolahan Air Limbah

Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah Sentrifugasi

Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah, Sentrifugasi gaya sentrifugal untuk mempercepat pengendapan padatan-padatan yang terdapat di dalam lumpur. Sistem dewatering yang ada dapat berupa solid bowl dan basket sentrifuge. Pada beberapa kasus, lumpur yang sudah terkondisikan di pompakan ke dalam horizontal atau cylindrical bowl yang berputar dengan kecepatan 1.600 – 2.000 rpm. Padatan akan dilemparkan keluar dari bowl dan diambil oleh screw conveyor, sedangkan cairan atau centrate akan dikembalikan ke dalam IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk di olah.

Proses sentrifugasi sebanding dengan sistem vakum filter dalam hal harga dan performance. Sentrifugal bersifat sangat kompak, tertutup, membutuhkan area yang kecil, dan dapat menangani lumpur yang mungkin mengakibatkan buntunya filter cloth. Kekurangan sistem ini antara lain rumitnya perawatan, masalah-masalah abrasi, dan centrate masih mengandung SS yang tinggi.

Dalam proses ini, slude cake dari sentrifus dapat mencapai 20% – 30% DS dan padat yang dapat ditangkap sebesar 85% – 95%. Dosis Polimer sebelum masuk ke dalam sentrifus adalah 0,1% – 0,7% DS. Informasi tambahan mengenai pengolahan lumpur bisa ada baca mengenai informasinya di bawah ini.

Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air LimbahPengolahan Lumpur

Pengolahan lumpur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suatu instalasi pengolahan air limbah. Inti dari pengolahan lumpur adalah mengurangi kadar air, menstabilkan, serta menghilangkan mikroorganisme patogen. Berikut ini adalah berbagai teknologi/metode dalam pengolahan lumpur.

1. Thickening

Thickening adalah proses yang dilakukan untuk mengurangi volume lumpur sekaligus meningkatkan konsentrasi padatan di dalam lumpur. Proses ini dapat dilakukan menggunakan peralatan antara lain gravity thickener, gravity belt thickener, rotary drum, separator, centrifuge, dan flotator.

Metode thickening yang cukup terkenal adalah gravity thickening. Sesuai dengan namanya, dalam proses ini terjadi pemanfaatan gaya gravitasi (pengendapan) untuk memisahkan air dari dalam sludge. Unit pengolahan yang digunakan untuk proses ini disebut gravity thickener yang serupa dengan secondary clarifier pada sistem lumpur aktif. Gravity thickener terbagi menjadi beberapa zona yaitu:

a. Clear zone: zona paling atas yang merupakan tempat bagi air yang berhasil dipisahkan dari lumpur untuk kemudian dikeluarkan dari dalam sistem dan diresirkulasi (dialirkan kembali) ke sistem pengolahan air limbah.

b. Feed zone: zona ini memiliki karakteristik konsentrasi solid yang seragam.

c. Compaction zone: merupakan zona yang berada di bawah feed zone.

Di antara feed zone dengan clear zone terdapat area yang disebut dengan sludge blanket yang kedalamannya menjadi faktor penting dalam operasional unit gravity thickener.

2.  Stabilization

Stabilisasi lumpur bertujuan untuk menghindari terjadinya pembusukan lumpur, mencegah bau yang mengganggu, serta untuk mengurangi konsentrasi materi volatil dan kandungan patogen di dalam lumpur.

a. Digestion

Sesuai dengan namanya, digestion (kita asosiasikan dengan proses pencernaan), proses yang satu ini melibatkan aktivitas mikrobiologi. Mikroorganisme di dalam reaktor akan bekerja “memakan” zat-zat organik yang berada di dalam sludge untuk menghindari/mengurangi proses dekomposisi zat organik setelah lumpur keluar dari instalasi pengolahan. Jenis organisme yang terlibat dapat berasal dari kelompok aerob (prosesnya disebut aerobic digestion) atau anaerob (anaerobic digestion). Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan proses aerob dan anaerob dapat dilihat di sini.

Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah

b. Thermal stabilization

Stabilisasi lumpur dengan proses termal dimaksudkan untuk melepaskan air yang terikat pada lumpur melalui proses pemanasan dalam waktu yang singkat.

c. Chemical stabilization

Kalau yang satu ini jelas-jelas menggunakan bahan kimia untuk proses stabilisasi lumpur. Zat kimia yang digunakan untuk proses stabilisasi antara lain klorin dan kapur (kalsium hidroksida).

3. Conditioning

Proses sludge conditioning bertujuan untuk meningkatkan dewaterability dari lumpur. Metode-metode sludge conditioning antara lain adalah chemical conditioning, thermal conditioning, elutriation, dan freeze-thawing.

4. Dewatering

Proses dewatering memiliki prinsip yang sama dengan thickening, yaitu mengurangi konsentrasi air dalam lumpur. Yang membedakan adalah konsentrasi akhir dari padatan yang diperoleh. Pada thickening, sasaran konsentrasi padatan yang diinginkan adalah <15%. Dalam hal ini sludge masih bisa dipompa selayaknya air limbah. Sementara itu, pada dewatering, konsentrasi akhir padatan yang diinginkan adalah lebih dari 15% sehingga pemompaan tidak mungkin dilakukan karena sludge sudah memadat dengan viskositas tinggi. Instrumen yang dapat digunakan untuk proses dewatering antara lain filter press, belt press, dan centrifuge.  Secara alami, proses dewatering dapat juga dilakukan dengan cara mengeringkan lumpur (menjemur di bawah sinar matahari) pada suatu drying bed. Kelemahan metode ini adalah diperlukannya lahan yang luas.

Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah

Jika masih ada pertanyaan, kritik dan saran atau apapun mengenai informasi atau mengenai isi dari site ini hubungi Saya Agus Duradjak,SE di HP 081323739973 BBM 29E26136 Telepon 022-85920070, terima kasih Anda telah membaca informasi ini yang berjudul Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah.

Related For Proses Pengolahan Lumpur Pada Pengolahan Air Limbah

Recent Post

Pengolahan Limbah Air Wudhu Pengolahan…
Pengolahan Air Limbah Organik Pengolahan…
Pengolahan Limbah Air Bekas Cucian…
Pengolahan Air Limbah Bengkel Pengolahan…