Pengolahan Air Limbah Industri, juga Pengolahan Air Limbah Ipal Hub 081323739973 BBM 29E26136 Pengolahan Air Limbah Industri, juga Pengolahan Air Limbah Ipal Hub 081323739973 BBM 29E26136
Home » Pengolahan Air Limbah » Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia

Sunday, November 25th 2012. | Pengolahan Air Limbah

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia digunakan dalam instalasi air bersih dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengolahan secara kimia pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) biasanya digunakan untuk netralisir limbah asam maupun basa, memperbaiki proses pemisahan lumpur, memisahkan padatan yang tidak terlarut, mengurangi konsentrasi minyak dan lemak, meningkatkan efesiensi instalasi flotasi dan filtrasi, serta mengoksidasi warna dan racun.Beberapa kelebihan Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia antara lain dapat menangani hampir seluruh polutan anorganik, tidak terpengaruh oleh polutan yang beracun atau toksin, dan tidak tergantung pada perubahan-perubahan konsentrasi. Namun, pengolahan kimia dapat meningkatkan jumlah garam pada effluent dan meningkatkan jumlah lumpur.

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Netralisasi

Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan air dan garam. Dalam pengolahan air limbah, pH diatur antara 6,0-9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air limbah akan bersifat racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri. Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi yang digunakan adalah  Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi antara air asam dan air biasa, penambahan bahan-bahan kimia yang diperlukan, dan filtrasi melalui zat-zat untuk Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi, misalnya CaCO3.

Jenis bahan kimia yang ditambahkan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah serta kondisi lingkungan setempat. Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat dilakukan dengan penambahan Ca(OH)2 (slake lime) atau NaOH (natrium hidrosida); sedangkan proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi air limbah yang bersifat basa dapat dilakukan dengan penambahan H2SO4 (asam sulfat), HCl (asam klorida), HNO3 (asam fosforat), atau CO2 yang bersumber dari flue gas.

Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi dengan filtrasi biasanya hanya digunakan untuk kapasitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang kecil dan harus dilakukan secara perlahan-lahan. Sistem Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi ini akan menghasilkan lumpur dalam jumlah sedikit. Sistem ini tidak dapat digunakan untuk air limbah yang mengandung kadar sulfat tinggi karena adanya pembentukan gypsum (CaSO4) pada permukaan batu kapur.

Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi dapat dilakukan dengan dua system, yaitu batch atau continue, tergantung pada aliran air limbah. Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi system batch biasanya digunakan jika aliran sedikit dan kualitas air buangan cukup tinggi. Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi system continue digunakan jika laju aliran besar sehingga perlu dilengkapi dengan alat control otomatis.

Kemungkinan untuk menetralkan air limbah dari beberapa aliran sangat tergantung pada proses produksi di dalam pabrik. Proses pengolahan air limbah secara kimia netralisasi air limbah dari beberapa aliran biasanya dilakukan juga pada air hasil regenerasi ion exchanger.

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Presipitasi

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Presipitasi adalah pengurangan bahan-bahan terlarut (kebanyakan bahan anorganik) dengan penambahan bahan-bahan kimia terlarut yang menyebabkan terbentuknya padatan-padatan (floc dan lumpur). Dalam pengolahan air limbah, Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Presipitasi digunakan untuk menghilangkan heavy metal (logam berat), sulfat, fluoride, dan fosfat. Senyawa kimia yang biasa digunakan adalah lime, dikombinasikan dengan kalsium klorida, magnesium klorida, dan garam-garam besi.

Presipitasi hidraksida logam sangat tergantung pada pH. Proses presipitasi dapat dijelaskan dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

CuCl2 + NaOH —————–à Cu(OH)2 + 2NaCl

CdNO3 + Ca(OH)2 ————à Cd(OH)2 + CaNO3

NiCl2 + NaOH —————–à Ni(OH)2 + 2 NaCl

Fe2(SO)4 + 3Ca(OH)2 ——-à 2Fe(OH)3 + 3CaSO4

2 NaF + Ca(OH)2 ————-à CaF2 + 2NaOH

Adanya complexing agent, misalnya NTA (nitrilo triacetic acid) atau EDTA(ethylene diamene tetraacetic acid), menyebabkan presepsi tidak dapat terjadi. Oleh karena itu, kedua senyawa tersebut harus dihancurkan sebelum Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Presipitasi akhir dari seluruh aliran, dengan penambahan garam besi dan polimer khusus atau gugus sulfide yang memiliki karakteristik pengendapan yang baik.

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Presipitasi sulfat hingga konsentrasi 2.500 mg/liter dapat dilakukan dengan penggunaan slaked lime. Jika dilanjutkan dengan penambahan kalsium aluminat, akan dicapai kadar sulfat hingga 50 mg/liter.

Pengendapan flourida yang dilakukan dengan menggunakan slaked lime dapat mencapai konsentrasi antara 30 mg-40 mg/liter. Penambahan kalsium aluminat akan memberikan konsentrasi flourida akhir kurang dari 3 mg/liter.

Pengndapan fosfat, terutama pada limbah domestic, dilakukan untuk mencegah eutrophication dari air permukaan. Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Presipitasi fosfat dari sewage dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu penambahan slaked lime, garam besi, atau garam alumunium.

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Koagulasi dan Flokulasi

Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Koagulasi dan Flokulasi adalah konversi dari polutan-polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus di dalam air limbah, menjadi gumpalan-gumpalan yang dapat diendapkan, disaring atau diapungkan.

Partikel koloid sangat sulit mengendap (20 tahun) dan merupakan bagian yang besar dalam polutan, serta menyebabkan kekeruhan. Untuk memisahkannya, koloid harus diubah menjadi partikel yang berukuran lebih besar melalui Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Koagulasi dan Flokulasi. Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia Koagulasi dan Flokulasi dapat dilakukan melalui beberapa tahap proses sebagai berikut :

  1. Penambahan koagulan/flokulan disertai pengadukan dengan kecepatan tinggi dalam waktu yang sangat singkat.
  2. Destabilisasi dari system koloid.
  3. Penggumpalan partikel yang telah mengalami destabilisasi sehingga terbentuk microfloc.
  4. Penggumpalan lanjutan untuk menghasilkan macrofloc yang dapat diendapkan, disaring, atau diapungkan.

Destabilisasi biasanya dilakukan dengan penambahan bahan-bahan kimia yang dapat mengurangi daya penolakan (repulsive force) karena mekanisme pengikatan dan adsorpsi. Berkurangnya daya penolakan akan diikuti dengan penggumpalan koloid yang telah netral secara elektrostatik, yang akan menghasilkan berbagai gaya yang bekerja di antara pertikel sehingga terjadi kontak satu sama lain.

Koagulan : Valensi ion akan berpengaruh terhadap proses koagulasi. Ion yang memiliki muatan berlawanan dengan koloid akan diendapkan. Koagulasi dicapai dengan menetralkan muatan elektrik dari permukaan koloid. Semakin besar valensi koagulan, efektifitas gaya koagulasi semakin besar.

Dengan demikian, berbagai besi valensi tiga dan garam alumunium dapat digunakan sebagai koagulan, misalnya: Al2(SO)4 (alumunium sulfat), FeCl3 (besi (III) klorida), FeSO4 (besi(II) sulfat), dan Al2(OH)20Cl4 (polialumunium klorida). Namun, koagulan-koagulan tersebut memiliki kelemahan, yaitu adanya perubahan karakteristik fisika – kimia (pH dan konduktivitas) dalam air hasil olahan. Selain itu, jika digunakan dalam dosis besar, akan menghasilkan lumpur yang berlebihan.

Flokulan : Saat ini, flokulan yang banyak digunakan adalah polyelectrolite. Molekul organic ini memiliki senyawa-senyawa makromolekul yang panjang, Beberapa senyawa memiliki muatan listrik atau gugus-gugus yang dapat terionisas. Bersadarkan sifatnya, polyelectrolyte dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu non-ionik polimer (misalnya polyacrylamide), anionic polimer (misalnya polyacrylic acid), dan kationik polimer (misalnya polyethylene-imine). Seluruh flokulan tersebut berperan untuk mempercepat terbentuknya floc. Dalam beberapa kasus, penggunaan PE tanpa disertai dengan penggunaan koagulan dapat bekerja sangat efektif.

Flokulasi harus dilakukan di dalam tangki yang dilengkapi dengan system pengadukan yang sangat pelan sehingga tidak menghancurkan floc yang sudah terbentuk. Namun, kecepatan ini juga harus cukup untuk memungkinkan terbentuknya floc dan mencegah floc mengendap di dasar tangki. Pada saat memindahkan air limbah ke dalam tangki pengendapan, harus dijaga agar floc tidak pecah.

Ringkasan Koagulasi – Secara garis besar, hal-hal penting mengenai proses koagulasi dapat diringkas sebagai berikut.

  1. Koagulasi bertujuan untuk membuat gumpalan-gumpalan yang lebih besar dengan penambahan bahan-bahan kimia, misalnya Al2SO4, Fe2Cl3, Fe2SO4, PAC dan sebagainya.
  2. Dasar-dasar perencanaan koagulasi adalah sebagai berikut.
    1. Untuk kemudahan operasi dan perawatan, digunakan inline static mixer.
    2. Waktu tinggal untuk reaksi adalah 30 detik – 2 menit.
    3. Flash mixer digunakan dengan kecepatan 250 rpm atau lebih.
    4. Mixer yang digunakan dapat berupa mixer jenis turbine atau propeller.
    5. Bahan shaft adalah baja tahan karat.
    6. Penggunaan bahan kimia bervariasi dari 50 ppm-300 ppm.
    7. Sangat disarankan untuk melakukan percobaan laboratorium terlebih dahulu.
    8. Jenis dosing pump yang digunakan adalah positive displacement (screw, membrane, peristaltic).

Ringkasan Flokulasi – secara garis besar, hal-hal penting mengenai proses flokulasi dapat diringkaskan sebagai berikut.

  1. Flokulasi bertujuan untuk membuat gumpalan yang lebih besar daripada gumpalan yang terbentuk selama koagulasi dengan penambahan polimer, misalnya polimer kationik dan anionic yang beredar dipasaran dengan nama-nama allied colloid, praestol, kurifloc, dan diafloc.
  2. Dasar-dasar perencanaan untuk flokulasi adalah sebagai berikut.
    1. Untuk kemudahan pengoprasian dan perawatan, digunakan static mixer.
    2. Waktu tinggal untuk reaksi biasanya antara 20-30 menit.
    3. Slow mixer digunakan dengan kecepatan antara 20-60 rpm.
    4. Jenis impeller dapat berupa paddle atau turbine.
    5. Materi shaft sebaiknya baja tahan karat.
    6. Penggunaan bahan kimia antara 2 mg-5 mg/liter.
    7. Sangat disarankan untuk melakukan percobaan laboratorium terlebih dahulu.
    8. Jenis dosing pump yang digunakan adalah positive displacement (screw, membrane, peristaltic), Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia.
Cat : Pengolahan Air Limbah, tags: , ,

Comment For Proses Pengolahan Air Limbah Secara Kimia

Pengolahan Air Limbah INFO :