Menu

Menyulap Limbah Menjadi Rupiah

May 5, 2015 | Pengolahan Air Limbah

Menyulap Limbah Menjadi Rupiah

Menyulap Limbah Menjadi Rupiah, SAAT berjalan-jalan melihat pameran akbar Inacraft awal April 2015, Bintang banyak sekali melihat kerajinan-kerajinan unik milik wirausaha lokal kita. Ada ratusan boothLimbah radioaktif merupakan salah satu jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi radionuklida pada konsentrasi atau kegiatan kimiawi yang melebihi batas yang disarankan (clearance level) yang ditetapkan oleh… terdaftar di sana dari berbagai pelosok negeri ini.

Menyulap Limbah Menjadi Rupiah

Beberapa booth menarik perhatian kami untuk masuk, mengamati, dan berbincang-bincang dengan pemiliknya langsung. Salah satunya adalah GS4 Woodcraft dari Malang, Jawa Timur.

Kami tertarik karena GS4 Woodcraft ini memampangkan peralatan dan aksesori rumah, suvenir, hingga produk anak dari kayu yang dihias cantik dalam beragam bentuk.

Maka masuklah kami ke booth ini untuk berbincang-bincang sejenak dengan pemiliknya. GS4 Woodcraft sebuah bisnis keluarga yang berdiri sejak 1992, diprakarsai pasangan suami-istri Hery (57) dan Retno (54), dan kini diturunkan kepada putri mereka, Rachmania Nur Dwitiyastuti (25)–akrab disapa Nia. Ada apa saja di GS4 Woodcraft?

Warna cerah, ukiran, dan gambar yang lucu dari kerajinan kayu ini yang menarik mata untuk singgah di GS4 Woodcraft. Ada beragam jenis stoples unik, cermin berlukiskan bunga-bunga, gantungan pakaian penuh warna, tempat tisu unik bergambar buah-buahan, semua terbuat dari kayu, dirancang sendiri oleh Hery yang berlatar belakang arsitektur dan Retno yang membantu proses produksi.

GS4 Woodcraft telah merambah di berbagai daerah di Indonesia, pelanggan tetap banyak berasal dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sempat sampai di Singapura. Semua dibina secara daring. Dimulai sejak 1992, bisnis ini boleh dibilang bermula tanpa modal rupiah namun kini sukses menuai nilai rupiah tinggi.

Limbah radioaktif merupakan salah satu jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi radionuklida pada konsentrasi atau kegiatan kimiawi yang melebihi batas yang disarankan (clearance level) yang ditetapkan oleh suatu Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BPTN). Dengan kata lain bahwa limbah radioaktif merupakan zat radioaktif yang sudah tidak dipakai lagi, dan atau bahan serta peralatan yang terkena dampak dari zat radioaktif sudah tidak dapat difungsikan kembali.

Sumber-sumber daripada limbah radioaktif berasal dari pemanfaatan energi nuklir baik pemanfaatan yang digunakan pembangkitan tenaga listrik dengan reaktor nuklirnya, ataupun pemanfaatan nuklir untuk keperluan rumah sakit dan keperluan industri. Berdasarkan undang-undang yang membahas tentang Ketenaganukliran disebutkan bahwa pengelolaan limbah radioaktif dilaksanakan oleh Badan Pelaksana yang sesuai dengan peraturan pemerintah republik Indonesia nomor 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, disitu dijelaskan bahwa Badan Tenaga Atom Nasionla (BATAN) merupakan satu-satunya institusi resmi di Indonesia yang melaksanakan pengelolaan limbah radioaktif. BATAN mempunyai satu Pusat khusus yang bertugas dalam pengelolaan limbah-limbah radioaktif yaitu Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) dan pengelolaan limbah radioaktif tersebut diawasi oleh pelaksanaannya oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Berikut jenis-jenis limbah radioaktif yang perlu diketahui:

Pernahkan anda melihat Slime di TV ? sebuah benda seperti cairan tapi sebenarnya tidak cair karena memang padat. Pernahkan anda berpikir untuk membuatnya? Jika iya, maka kali ini kamu akan Baca lebih lanjut

Dulu ada tetangga yang memiliki pabrik furnitur, ada limbahnya, kan tidak terpakai. Suami saya, kan arsitek, dia mencoba memanfaatkan limbah yang dibuang ini menjadi sesuatu yang berguna. Dia berkata seharusnya limbah ini masih bisa diproduksi lagi. Lalu dia bertanya kepada pemilik pabrik furnitur ini, masih dipakai, enggak? Boleh enggak kalau kami ambil dan kami olah? Alhamdulillah dapat lampu hijau, katanya kalau mau ambil saja, tutur Retno.

Mulailah pasangan ini memproduksi produk baru dari limbah ini, berupa peralatan rumah tangga.

Awalnya kami membuat tempat pisau. Kecil saja tempatnya. Lalu di tahun itu di Malang lagi booming hiasan-hiasan dinding, kami juga membuatnya, menyesuaikan dengan kayu yang ada saja. Kemudian tempat tisu. Itu produk-produk awal kami, jelasnya.

Beberapa produk yang sudah dihasilkan ini dipasarkan dan ternyata direspons. Tak terasa sepuluh produk, dua puluh produk terjual. Hasil penjualan ditabung.

Seiring meningkatnya jumlah produksi, tak terasa isi tabungan ikut meningkat. Setahun kemudian Hery dan Retno sudah bisa membeli alat produksi sendiri, juga sudah tidak lagi memanfaatkan limbah, tetapi membeli kayu khusus.

Kemudian kami mulai ikut bazar demi bazar. Dari situ kami tahu lebih banyak lagi produk apa yang diminati orang. Misalnya sesuatu yang kecil tetapi bermanfaat, ungkap Retno.

Usaha ini dari tahun ke tahunnya menunjukkan perkembangan yang baik. Varian produk pun berkembang. Dalam sebulan kini memproduksi aksesori atau peralatan rumah nonrakitan 1.000 buah. Sementara produk rakitan minimal 500 buah per bulannya. Dengan harga dimulai dari 20 ribu hingga 500 ribu rupiah. Setelah 23 tahun berlalu, jiwa bisnis menurun kepada buah hati mereka, Nia.

Sejak kecil melihat bapak-ibunya berkecimpung di usaha kerajinan kayu, dia tertarik.

Saya otomatis tertarik. Mulai dari ikut merancang bentuk, menggambar produk, gambarnya apa, potongannya seperti apa. Menurut saya ini bisnis yang unik. Sekarang ada beberapa produk yang idenya dari saya, biasanya lebih ke produk anak muda, seperti gantungan kunci, stoples-stoples lucu, tempat gantungan pakaian, cermin, bilang gadis kelahiran 4 April 1989 ini.

Dengan jumlah karyawan 10 orang, Nia saat ini menjabat di posisi pemasaran atau marketing. Desain, gambar, dan warna yang ceria membuat GS4 Woodcraft cocok membidik pasar anak muda. Pasar ini paling mudah dijangkau, tentu saja melalui media sosial.

Saya termasuk anak muda yang beruntung. Ayah-ibu saya sudah memulainya untuk saya, saya tinggal meneruskan. Tetapi kalian pun bisa memulai sendiri. Kiatnya, sih, pilihlah bisnis yang kalian sukai dan nikmati. Saya kebetulan suka menggambar, maka saya senang merancang produk-produk ini. Tentang modal, biasanya kendala orang adalah modal. Belajar dari ibu saya, dia tidak mengeluarkan uang awalnya, dia hanya memanfaatkan apa yang ada. Uangnya kemudian berputar. Itu bisa terus menjadi modal, ucap Nia.

Omzet kerajinan kayu ini bisa dihitung sendiri. Mengambil produk dengan harga terendah 20 ribu rupiah, produksi 1.000 barang per bulannya, maka sebulan menghasilkan minimal 20 juta rupiah.

Related For Menyulap Limbah Menjadi Rupiah

Recent Post

Pengolahan Limbah Air Wudhu Pengolahan…
Pengolahan Air Limbah Organik Pengolahan…
Pengolahan Limbah Air Bekas Cucian…
Pengolahan Air Limbah Bengkel Pengolahan…